SMS/WA :0812 9597 095 (Tsabita Boneka) 8.00-17.00 WIB
atau kirim pertanyaan anda melalui inbox ke FP Tsabita Boneka&Puppet

Rabu, 03 Januari 2018

Menghitung harga jual produk craft

Satu faktor operasional sekaligus pemasaran yang penting untuk diperhatikan ketika membuat dan menjual produk handmade adalah harga. Secara pemasaran, harga adalah faktor yang penting untuk menarik perhatian calon pembeli. Jika kamu memasang harga yang terlalu tinggi dibanding harga pasar pada umumnya, calon pembeli akan enggan untuk membeli produkmu dan lebih memilih produk lain yang lebih murah tapi dengan kualitas yang sama. Tapi kamu juga tentu tidak ingin menjual produk handmade-mu terlalu murah sampai-sampai kamu harus merugi.
Tapi, tantangan dan kesulitan yang sebenarnya bukan di keputusan akhirnya, tapi pada proses perhitungannya. Sebagai penjual, kamu harus benar-benar memasukkan dan memperhitungkan semua sumber daya yang kamu gunakan untuk membuat satu produk (biaya produksi). Jika salah menghitung atau melewatkan satu sumber daya dalam hitungannya, harga yang kamu tentukan akan tidak sesuai atau tidak memberikan keuntungan tanpa kamu ketahui sebabnya apa.
Kali ini, kita akan membahas apa saja yang harus dihitung ketika kamu ingin menentukan harga produk handmade yang ingin kamu jual.

Hitung biaya bahan produknya

Faktor pertama yang paling mudah dan harus kamu perhitungkan adalah bahan. Catat apa saja bahan yang kamu gunakan untuk membuat satu produk, dan seberapa banyak kamu menggunakannya. Kemudian, cari tahu dan catat berapa harga dari tiap-tiap bahan tersebut, lalu jumlahkan.

Contoh: Kamu ingin membuat dan menjual sarung bantal dari kanvas dengan tulisan atau gambar lucu yang kamu lukis sendiri. Untuk membuat satu sarung bantal, kamu perlu kain kanvas yang harganya Rp 40.000 per meter, benang yang harganya Rp 2.500, dan resleting yang harganya Rp 2.500, dan cat akrilik yang harganya Rp 10.000. Lalu, kamu memerlukan Rp 5.000 untuk mengemas produknya sebelum dikirim. Jika dijumlah, berarti untuk satu produknya kamu perlu biaya Rp 60.000 untuk pembelian bahan.

Bahan baku

Kain kanvas Rp 40.000
Benang Rp 2.500
Resleting Rp 2.500
Cat akrilik Rp 10.000
Pengemasan Rp 5.000
HargaTotalRp 60.000

Tips:
Untuk mengecilkan biaya bahan tanpa mengorbankan kualitas ideal yang kamu inginkan untuk tiap produkmu, sebaiknya beli bahannya dalam jumlah banyak sekaligus. Misalnya, daripada membayar Rp 40.000 untuk kain kanvas 1×1 meter, kamu mungkin bisa membeli satu gulung sepanjang 30 meter sekaligus dengan harga Rp 35.000 per 1×1 meternya. Toh kamu juga tidak cuma membuat satu produk, kan?

2. Hitung operasional lain yang digunakan

Pengeluaran berikutnya yang harus kamu masukkan dan hitung adalah semua biaya operasional yang bukan bahan atau tidak terikat pada satu produk saja. Contoh benda yang termasuk dalam kategori ini antara lain peralatan, sewa gedung/studio/bengkel, transportasi, biaya toko online (jika kamu menjualnya secara online), dan lainnya. Nah, untuk menghitung bagian ini secara akurat, kamu harus memiliki rencana yang jelas. Berapa banyak produk yang akan kamu buat dalam kurun waktu tertentu. Dari situ, kamu bisa menghitung biaya operasional yang kamu perlukan untuk satu produknya.

Contoh: Untuk membuat sarung bantal, kamu perlu mesin jahit yang harganya Rp 2 juta, satu set kuas lukis yang harganya Rp 50.000 dan gunting Rp 5.000. Lalu, kamu juga harus membayar biaya sewa studio/bengkel Rp 2,5 juta per tahun. Setelah itu, kamu berencana ingin membuat 100 produk selama setahun. Berarti menghitung biaya operasional untuk tiap produknya, kamu hanya perlu menjumlah semua biayanya lalu membaginya dengan 100. Untuk contoh yang ada di artikel ini, berarti untuk tiap produknya kamu mengeluarkan biaya operasional sebanyak Rp 45.550.

Sumber daya     biaya total  Biaya/produk
Mesin jahit         Rp. 2 juta      Rp20.000
Alat jahit&lukis Rp 55.000      Rp 550
Sewa studio        Rp 2,5 juta    Rp 25.000
Total                    Rp 4,555 juta Rp 45.550

Tips: Untuk mengecilkan biaya operasional, kamu bisa meningkatkan jumlah produk yang kamu produksi. Misalnya kamu bisa menaikkan produksimu hingga 150 produk selama sehingga biaya operasionalnya turun jadi Rp 30.366 per produk. Atau, kamu juga bisa menghapus beberapa aset operasional yang tidak begitu mempengaruhi proses produksi. Mungkin kamu belum perlu menyewa studio.

3. Hitung waktu dan tenaga yang diperlukan

Membuat, mengelola, dan menjual produk handmade memerlukan waktu dan tenaga. Kamu harus memperhitungkan langkah apa saja yang harus kamu tempuh agar satu produk yang kamu buat siap untuk dijual. Berapa lama waktu yang diperlukan agar produk tersebut siap dijual? Lalu, seberapa banyak ‘gaji’ yang kamu ingin berikan untuk orang yang melakukan tugas itu? Dari situ, kamu bisa menghitung berapa biaya waktu dan tenaga yang diperlukan untuk tiap produk.

Contoh:Karena masih baru dan tidak memproduksi terlalu banyak produk, kamu masih bisa melakukan semua prosesnya sendirian.
Kamu menentukan bayaran untuk dirimu sendiri sebesar Rp 20.000 per jamnya untuk semua tugas (mulai dari proses produksi, pengelolaan, dan lainnya).Lalu, setelah dicoba, kamu ternyata perlu waktu 3 jam untuk membuat satu produknya. Berarti untuk tiap satu produk,kamu mengeluarkan biaya Rp 60.000 untuk waktu dan tenaga.

Keterangan:
Gaji Rp 20.000
Lama produksi per produk 3
BiayaTotalRp 60.000

Tips: Tergantung dari bagaimana caramu menghitung dan seberapa besar usahamu saat ini, menghitung biaya waktu dan tenaga mungkin akan sederhana (seperti di atas), tapi bisa juga sangat rumit (misalnya ketika kamu sudah punya pegawai yang punya tugas masing-masing). Tapi bagaimanapun, untuk memperkecil biaya di kategori ini, kamu harus berusaha membuat proses produksimu lebih efisien. Apakah ada langkah yang bisa dipersingkat atau dihapus? Apakah ada tugas yang bisa dikerjakan oleh satu orang saja? Dan sebagainya. Selain itu, kamu juga bisa bereksperimen dengan mengubah gajimu sendiri

4. Tentukan harga jual sesuai target penjualanmu

Setelah menentukan semua biaya produksi di atas, langkah terakhir yang harus kamu lakukan adalah menentukan harga. Nah, menentukan harga ini tidak punya formula khusus sama sekali, dan kamu bebas menentukannya. Tapi, sebagai saran, sebelum menentukan harga, pertimbangkan dulu apa targetmu dalam jangka kurun waktu tertentu (misalnya setahun). Jika kamu baru mulai berjualan dan ingin membangun reputasi terlebih dulu, kamu mungkin bisa mulai berjualan dengan harga yang sama dengan biaya produksi atau hanya sedikit lebih tinggi (misalnya di tambah Rp 5.000). Tapi jika kamu ingin mengembangkan usahamu, kamu harus tahu seberapa besar kamu ingin mengembangkannya, dan berapa banyak keuntungan yang diperlukan untuk mencapai itu.

Contoh: Setelah setahun ini menjual satu lini produk yaitu sarung bantal, kamu ingin menjual lini produk baru tahun depan. Setelah melakukan riset kecil-kecilan, kamu ternyata hanya perlu modal tambahan sebesar Rp 1,5 juta. Itu berarti 10 persen dari hasil penjualan 100 sarung bantal yang kamu buat tahun ini (Rp 165.550 x 100 = Rp 16.555.000).
Berarti untuk sarung bantal yang kamu buat tahun ini, kamu harus menjualnya dengan tujuan mengambil untung 10 persen dari biaya produksi, yang berarti Rp 165.550 + Rp 16.555, yang jika dibulatkan berarti Rp 182.000 per produk.

Sumber dayaBiaya
TotalRp 182.105
BahanRp 60.000
OperasionalRp 45.550
Waktu dan tenagaRp 60.000
Target keuntungan 10 persenRp 16.555

menentukan harga ini mungkin terkesan rumit, padahal di tabel hanya ditulis sebagai “Target keuntungan 10 persen”. Tapi semua pertimbangan itu penting agar harga produk yang kamu tentukan bisa membuatmu usahamu membuat dan menjual produk handmade berkembang ke arah yang tepat dan sesuai keinginan. Singkatnya, tentukan harga untuk prospek dan tujuan ke depan.

Bonus: pertimbangkan juga faktor eksternal ini

Dari perhitungan di atas, kamu memang bisa menentukan harga sebenarnya dari produk handmade yang kamu buat dan jual. Tapi, apakah calon pembelimu setuju dan mau membeli dengan harga itu? Mungkin ya, dan mungkin juga tidak. Ada beberapa faktor luar yang mempengaruhi harga ideal dari produk yang kamu buat, dan kamu harus mencari tahu berapa kisaran harga ideal tersebut, kemudian melakukan beberapa penyesuaian agar harga jual produkmu sampai di titik yang diterima oleh calon pembeli.
Untuk mencari tahu harga ideal produkmu yang bisa kamu lakukan adalah :
melakukan riset
mengenai harga produk lain yang mirip dengan yang kamu jual. Di mana posisi produkmu jika dijual dengan harga yang sebenarnya. Apakah ada orang yang menjual produk yang sama dengan harga segitu? Berapa harga produk lain yang sejenis? Tapi, ingat, bedakan rentang harga untuk produk sejenis yang diproduksi secara masif dengan yang dibuat secara handmade dan punya keunikan khusus. Kamu tetap bisa melihat harga untuk produk yang diproduksi secara masif sebagai referensi, tapi produk itu bukanlah saingan langsung untuk produk yang kamu jual.</p><p> </p><p><em><strong>2.mencari tahu siapa pembelimu</strong>.</em> Siapa yang membeli atau akan membeli produkmu? Bagaimana daya beli mereka? Lalu, untuk apa dan bagaimana pembeli menggunakannya? Jika setelah beberapa lama berjualan ternyata produkmu dibeli oleh orang-orang yang sudah bekerja dan terus dipakai sampai bertahun-tahun atau tahan lama, kamu mungkin bisa menjual produkmu dengan harga yang sedikit lebih tinggi, dengan alasan bahwa tiap pembeliannya merupakan investasi jangka panjang. Tapi jika ternyata pembelimu kebanyakan anak muda usia kuliah, kamu mungkin perlu menurunkan harga produkmu

3.uji coba dan melihat respon orang lain. Setelah kamu menentukan harga yang menurutmu sesuai dan masuk akal, coba lihat hasil penjualannya. Apakah sesuai keinginan? Coba juga minta pendapat dan feedback dari pembeli, penjual lain, atau orang lain yang menurutmu mengerti. Atau, kamu juga bisa membuat dua produk yang tidak jauh berbeda secara model, tapi punya biaya produksi yang sama, dan memasangnya masing-masing dengan harga yang berbeda. Lalu, lihat hasil penjualannya, mana yang lebih laku
Ketika kamu menghitung dan menentukan harga produkmu yang sebenarnya dan melakukan riset pasar, harga produkmu yang sebenarnya dan harga produkmu yang ideal mungkin akan berbeda satu sama lain. Itu tidak masalah, tapi kamu harus tahu kenapa perbedaan itu muncul. Coba lihat kembali daftar hal yang masuk ke biaya produksimu, lalu coba ubah beberapa hal. Apakah kamu harus menurunkan kualitas bahannya? Apakah alat dan biaya operasionalmu terlalu besar (mungkin kamu membeli mesin jahit yang terlalu mahal)? Atau apakah ada langkah atau proses yang bisa lebih efisien dan tidak memerlukan pegawai tambahan? Setelah mengidentifikasi itu dan melakukan penyesuaian yang perlu, kamu harusnya bisa menjual produkmu dengan harga yang tepat.

Ingat, harga produkmu bukanlah sesuatu yang sifatnya permanen. Seiring terjadi perubahan pada tokomu, kamu juga akan mengevaluasi kembali harga produkmu dan cara kamu menentukannya

sumber dari : http://blog.qlapa.com/cara-menentukan-harga-jual-produk-handmade-mu

Sabtu, 30 Desember 2017

DIY Pusheen pillow

Let's make your own Pusheen pillow
Draw the pattern on your cotton fabric
Cut it , make it double
Draw details with fabrics marker
Cute !
Sew the side around it , turning the good side fabric out, and fill with synthetic fibers
You got it!
Alhamdulillah 😊

Jumat, 29 Desember 2017

Miiko boneka tangan

Readystock cuma 1 set
Boneka tangan Miiko (40cm) + baju ganti/ set
WA : 08129597095
.
kostum bisa bongkar pasang + baju ganti dan topi (seperti di foto)
Muka :bordir
Rambut :benang rajut
Badan boneka dari kain nylex isian dakron


Kamis, 30 November 2017

December Collection 2017

Handmade Sleepy Bear
height: 40cm (when standing). .
made of cotton and jeans, hand embroidered eye, felt nose, synthetic fiber stuffing, satin ribbon, washable, safe for baby and children.

Indonesia silahkan
WA : 082124026020
Line : tsabitaboneka

Shipping world wide by EMS
Payment by Western Union /MoneyGram

Minggu, 01 Oktober 2017

Di PHP-in Sis ...?

Sebagai crafter dan berjualan secara online php itu udah kayak kejadian lumrah ditemui seperti cemilan diantara makanan utama. Saya akan membatasi pembahasan untuk yang berjualan di sosmed dan produknya ready stock jadi bukan pesanan khusus atau customize. Kenapa saya bahas untuk yang jualan di sosmed saja? Karena biasanya ibu-ibu lebih nyaman bertransaksi di sosmed karena kenal dengan penjualnya beda dengan marketplace ,di marketplace biasanya sudah ada beberapa peraturan yg mencegah kerugian di kedua belah pihak. 

PHP (Pemberi Harapan Palsu) disini artinya calon pembeli minta produknya (readystock) di keep (simpan) oleh penjual dengan janji akan transfer beberapa hari kemudian, tentu sudah melalui proses totalan belanja dan deal antara penjual dan calon pembeli dan berakhir dengan janji transfer tentu beserta no rekening yg telah diinfokan...  Dan pada saat hari-H- si transfer tak kunjung datang .... Penyebabnya bisa bermacam-macam , bisa karena calon customer terkena musibah kehilangan harta atau ternyata dia cuma penghubung (dropshiper) atau banyak alasan lain yg astral dan diluar jangkauan 😁

Beberapa penjual terutama kaum wanita menumpahkan kekesalan pada dunia maya , bahkan tak jarang juga menyindir dg mention jika berteman di sosmed, sehingga bisa terjadi status war. Apalagi jika ditambah calon pembeli tidak memberi kabar pembatalan Dan berakhir dengan pemblokiran...bisa jadi penggalangan massa di sosmed 😁

Mungkin dengan nyetatus ngamuk-ngamuk kekesalan kita akan berkurang, tapi apakah menguntungkan dari segi dunia dan akhirat...? Jelas tidak!

Bahkan bisa jadi calon2 customer masa depan akan mundur teratur mengetahui kegalakan kita di sosmed, akhirnya yang tadinya tertarik dengan produk kita jadi ngacir tanpa nge"sen" lagi....bablas.

Terus bagaimana dong sikap kita sebagai penjual...tentu keep calm and move on ! Pertama kita cek lagi peraturan jual beli kita apakah bisa memberi kenyamanan di kedua belah pihak, berilah pembatasan waktu untuk "keep" walaupun anda kenal dengan pembelinya. Akan lebih nyaman jika jual beli disepakati peraturan diawal. Jadi tidak ada baper lagi. Jika sesuai batas waktu tidak transfer juga berarti kita berhak menjual lagi ke umum, karena sudah disepakati batas waktu keep, tentu sebaiknya diberi peringatan sebelumnya bahwa batas waktu keep habis.

Jadi...? Keep calm and selling...karena bisa jadi it bukan rejeki kita, bukankah rejeki sudah ditentukan Allah, Jadi jangan terlalu kecewa dengan yang terluput, bisa jadi ada rejeki dari arah lain yang tidak kita duga, tetaplah berfikir positif dan berbaik sangka pada Sang Pemberi Rejeki kita.

Sekedar berbagi pengalaman. Sering saat saya mengalami kejadian seperti ini (PHP) ternyata seolah ada calon pembeli lain yg sudah menunggu Dan kadang dengan pembelinya dalam jumlah yang lebih daripada dengan si PHP.

Jadi kenapa kita harus menghabiskan energi untuk sesuatu yang memang bukan rejeki kita? jika ternyata ada rejeki yang di depan kita lebih baik dan lebih berkah...

Ayo semangaat sis..menjemput rejeki yg halal dan berkah untuk kita.

Pikiran negatif ..? Hempaskan!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...